• Selasa, 7 Desember 2021

GusJiGang Ajaran Dari Sunan Kudus Kangjeng Djakfar Shodiq

- Kamis, 23 September 2021 | 09:00 WIB
Tajug Kudus (Jarwoto)
Tajug Kudus (Jarwoto)

Ajaran dan tradisi yang diajarkan oleh Sunan Kudus masih melekat pada masyarakat Kudus hingga saat ini. Salah satunya adalah gerakan GusJiGang hal ini seperti yang dituturkan salah seorang peneliti ajaran Gusjigang Sunan Kudus Dr. H. M. Ihsan, M.Ag. “Tradisi Gusjigang ditanamkan oleh Sunan Kudus sejak perjumpaannya dengan The Ling Sing, tokoh China mantan nakhoda panglima Cheng Hoo, yang menyepakati lahirnya kota Kudus yang merdeka, tidak terikat dengan kerajaan tertentu dan tidak dimonopoli oleh suku atau agama tertentu”.

Masyarakat Kudus meyakini, Gusjigang memiliki makna ‘Gus-bagus akhlak budi pekertinya’ ‘Ji-mengaji’ yang berarti menuntut ilmu atau ‘Ji-kaji’ (menunaikan ibadah haji) serta ‘Gang-berdagang’ ajaran ini cukup menonjol di wilayah Kudus Kulon (barat) atau wong ngisor menoro (orang sekitar menara). Dari hal ini terlihat bahwa Gusjigang masih terbatas pada masyarakat sekitar Menara Kudus.

Sunan Kudus memiliki beberapa ajaran yang masih melekat pada masyarakat Kudus namun, semua torehan sejarah yang dilakukan wali sanga yang di dalamnya ada Sunan Kudus seakan ditiadakan peranannya dalam penyebaran agama Islam masuk ke Nusantara atau Indonesia. Hal itu termuat dalam Ensiklopedia Islam terbitan Ikhtiar Baru Van Hoeve pada tahun 1994 dan sebagai editornya Drs. H Kafrawi Ridwan, MA. Dkk. yang tidak menyebut Wali Songo sebagai tokoh-tokoh penyebar Islam pada zamannya. Dalam buku itu disebutkan bahwa Islam baru masuk ke Nusantara pada tahun 1803 Masehi yang ditandai penyebaran oleh tiga orang haji asal Sumatra Barat yaitu Haji Miskin, Haji Sumanik, dan Haji Piabang. Hal ini lebih muda daripada pendirian Masjid dan daerah Kudus yang sudah terlaksana sejak tahun 1549 Masehi, yang sebagian besar masyarakatnya sudah beragama Islam.

Masyarakat Kudus belum bisa mendapatkan informasi yang memadai ketika ingin mengetahui Sunan Kudus lebih mendalam. Seperti halnya penuturan dari Deni Nur Hakim, untuk saat ini masyarakat baru dapat mengetahui di mana makam Sunan Kudus, Masjid yang didirikannya, serta menara yang menjulang tinggi peninggalannya. Dokumen pribadi (catatan harian) Sunan Kudus sampai saat ini belum ditemukan, jadi kapan lahirnya dan wafatnya kami belum mengetahuinya, hanya saja ada beberapa petunjuk dari inskripsi yang menunjukkan kapan beliau berkiprah di Kudus ini khususnya.

Deni Nur Hakim menuturkan juga, salah satu terbitan dari Yayasan Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus (YM3SK) yang berjudul, Menara Kudus Menjaga Tradisi Nusantara “Menelusuri Keindahan Ragam Arsitektur Masjid, Menara, dan Makam Sunan Kudus” pada tahun 2015 masih sangat terbatas jumlahnya. Masyarakat secara luas belum bisa mengoleksinya secara bersama-sama, karena terbitan ini menjadi suvenir saat Buka Luwur Makam Sunan Kudus 2015. Walaupun demikian pihak kami terus melestarikan ajaran dan tradisi Sunan Kudus agar masyarakat mengatahuinya, seperti Bedug Dandang (penanda awal bulan suci Ramadhan), Buka Luwur (penggantian tirai makam) dengan berbagai rangkaiannya dan Ta'sis Masjidil Aqsha Menara Kudus. Baru beberapa hal yang dapat kami lakukan agar masyarakat mengetahui Sunan Kudus, masih membutuhkan upaya yang mendalam agar informasi terkait Sunan Kudus memadai dan tersebarluaskan.

 

Sumber Buku dan Jurnal:

Sunyoto, A. (2016). Atlas wali songo (Cetakan I). Tangerang Selatan: Pustaka IIMan dan LESBUMI PBNU.

Ihsan, M. (2017). Karakter kemandirian. Iqtishadia, 10(2), 153–183.

Halaman:

Editor: Jarwoto

Tags

Artikel Terkait

Terkini

X