Berita

Peran Mahasiswa Dalam Membangun Perekonomian Bangsa

Jakarta – Capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia mendapatkan berbagai apresiasi, berbarengan dengan perkembangan sistem demokrasi tanpa ada konflik besar.

Grand Design Hindu Dharma Indonesia (GDHDI) bidang pendidikan NLG Vivin Sania Dewi menyebutkan sinyal penguatan ekonomi ditandai oleh meningkatnya pertumbuhan ekonomi nasional belakangan ini, hingga kuartal III-2016, rata-rata pertumbuhan ekonomi sekitar 5%.

“Angka tersebut mendorong ekonomi Indonesia berada di posisi ketiga pertumbuhan ekonomi dunia setelah India dan Tiongkok dan masih di atas Malaysia,” ungkap Vivin.

Hal itu mengemuka saat diskusi bertema “Outlook Ekonomi 2017 di mata Mahasiswa” diinisiasi Lingkar Mahasiswa dan Pemuda Jakarta (Lima-PJ) di Resto Balphus Jl. Balai Pustaka Jakarta, hari ini.

Acara yang dipandu oleh moderator Dimas Ariqi Dermanto dan MC I Gusti Ayu Brenda Permata Sari nampak antusias dihadiri ratusan massa berbagai BEM dan Mahasiswa se-Jabodetabek. Juga dihadiri narasumber lainnya yaitu Dosen Kalbis-Filsafat Etika dan Religiusitas M. Kasyfi Arsyan, Ketua Komisariat GMNI Jayabaya Trisnawingki Kiki.

Lebih lanjut, Vivin mengatakan hal ini juga didukung oleh tingkat inflasi yang terkelola dengan baik di angka sekitar 3,5%. Pertumbuhan ekonomi Indonesia masih sangat bagus dan seimbang dibandingkan negara lain seperti Malaysia. Saat ini Malaysia mempunyai defisit anggaran 10%, sedangkan Indonesia hanya 2,5%, artinya dari sisi defisit anggaran Indonesia lebih baik.

Dia pun berpesan agar para pemuda memiliki peran dan fungsi yang strategis dalam akselerasi ekonomi bangsa termasuk pula dalam proses kehidupan berbangsa dan bernegara.

“Pemuda merupakan aktor dalam pembangunan ekonomi bangsa. Sebagai agen perubahan diwujudkan dengan mengembangkan pendidikan politik dan demokratisasi, sumberdaya ekonomi, kepedulian terhadap masyarakat, ilmu pengetahuan dan teknologi, olahraga, seni, dan budaya, kepedulian terhadap lingkungan hidup, pendidikan kewirausahaan, serta kepemimpinan dan kepeloporan pemuda,” ucap Vivin.

Vivin mengingatkan agar pemuda Indonesia saat ini sudah bukan saatnya lagi untuk berpikir mengenai kebutuhan diri sendiri. Pemuda Indonesia sekarang harus menjadi pionir solusi bagi masalah negeri.

“Karena pada dasarnya semangat masa depan suatu bangsa terletak pada generasi pemuda dari bangsa tersebut,” tuturnya.

Minat Investasi dari Berbagai Negara ke Indonesia Menanjak

Sementara itu, Ketua Lembaga Debat Hukum dan Konstitusi Mahasiswa Indonesia (LDHKMI) Andi Muh. Adhim menilai persepsi Internasional dari kalangan bisnis dan lainnya mulai membaik terhadap Indonesia. Bahkan, kata dia, kepercayaan dan minat investasi dari berbagai negara ke Indonesia kembali menanjak.

“Prestasi tersebut didorong realisasi kebijakan pemerintah untuk memperbaiki iklim investasi maupun kondisi makro Indonesia setelah sebelumnya sempat merosot akibat faktor eksternal maupun internal,” ucap Andi.

Andi mengaku bangkitnya kembali persepsi Internasional kepada Indonesia, karena para pemimpin dan pengusaha dunia melihat langkah nyata dari pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) untuk membabat habis peraturan yang menghambat kegiatan penanaman modal.

“Persepsi terhadap Indonesia dari kalangan internasional dan bisnis sudah mulai membaik. Itu karena ada langkah konkret untuk mengurangi peraturan yang berlebihan dan mempersulit,” sebutnya.

Andi melanjutkan optimisme tinggi pelaku pasar terhadap Negara ini juga dipengaruhi perbaikan makro ekonomi Indonesia, diantaranya terus mencetak peningkatan surplus neraca perdagangan dan mempersempit defisit transaksi berjalan.

“Momentum perbaikan ini, diharapkan dapat dimanfaatkan pemerintah untuk mempercepat pertumbuhan ekonomi,” cetusnya.

Indonesia, Negara Paling Dilirik Investor Luar Negeri

Ditempat yang sama Dosen Kalbis – Filsafat Etika dan Religiusitas M. Kasyfi Arsyan juga mengaku Indonesia yang merupakan negara berkembang ini memiliki pertumbuhan ekonomi yang relatif sangat baik dibandingkan dengan yang lain, didukung indikator makro ekonomi.

“Indonesia merupakan salah satu negara yang paling dilirik investor luar negeri,” tuturnya.

Arsyan berharap agar peluang tersebut bisa dimanfaatkan. Dijelaskannya tahun 2017 pertumbuhan ekonomi diprediksi 5,2% dibanding tahun ini yang hanya 5%. Dia optimistis IHSG tahun depan dalam tren meningkat. Emiten yang bakal berkibar adalah sektor konsumsi, konstruksi, properti, dan perbankan. Sejumlah faktor positif bakal mendorong pertumbuhan ekonomi, seperti kesuksesan amnesti pajak yang memperluas basis pajak, sehingga penerimaan pajak lebih tinggi, yang berdampak pada tingginya belanja modal, khususnya infrastruktur.

“Pendorong pertumbuhan lain adalah ekspor yang lebih baik seiring perbaikan harga komoditas. Konsumsi masyarakat juga akan lebih baik dari tahun ini,” terang Arsyad.

Masih kata Arsyad, ekspor diprediksi lebih baik dari tahun ini karena bangkitnya harga komoditas. Konsumsi masyarakat membaik dan tetap menjadi motor pertumbuhan.

“Dampak paket kebijakan ekonomi yang digulirkan pemerintah akan terasa pada tahun depan yang bakal mendongkrak investasi,” katanya.

Tingkatkan Daya Saing untuk Berkompetisi dengan Negara Lain

Ketua Komisariat GMNI Jayabaya Trisnawingki Kiki memastikan mewujudkan ekonomi Indonesia menjadi lebih baik pada tahun 2017 adalah dengan meningkatkan daya saing agar memberikan kemudahan berusaha.

“Anggaran yang digunakan untuk hal yang produktif tentunya akan meningkatkan daya saing dan menjadikan negara kita dapat berkompetisi dengan negara lain,” jelasnya.

Dikatakannya, pengalihan anggaran dari sektor konsumtif ke produktif meningkatkan anggaran pembangunan infrastruktur sebesar 76 persen yang digunakan untuk membangun jalan tol, pelabuhan-pelabuhan besar, bandara-bandara baik terminal atau runway-nya. Penguatan rupiah pun akan berdampak positif bagi pengendalian inflasi.

Sedangkan disisi lain kondisi eksternal dengan kepastian suku bunga The Fed di tahun ini dan prospek ekonomi Amerika kedepan memberikan ruang bagi Indonesia.

“Hal tersebut membuat kita memiliki keuntungan dari sisi confidence yang meningkat terhadap situasi perekonomian Indonesia. Ini terlihat dari sisi arus capital yang masuk ke dalam negeri dengan ditambah dari tax amnesty jumlah itu menjadi relative sangat kuat dibandingkan pola yang sama tahun lalu yang bisa menjelaskan kenapa dari sisi mata uang Rupiah kita mengalami penguatan,” ucap dia.

Presidium LIMA – PJ Nurhalim Fadli merasa optimis pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terus meningkat dari kuartal ke-1 sebesar 4,94 persen, dan kuartal ke-2 meningkat menjadi 5,18 persen, dan kuartal ke-3 sebesar 5,02 persen.

“Kalau dibanding negara lain masih dalam posisi sangat baik. Kita sangat optimis untuk menuju ke depan. Tidak ada hal yang menyebabkan kita pesimis,” bebernya.

Presidium Youth Movement Institute (YMI) Reza Malik menerangkan bahwa seorang mahasiswa mempelajari perekonomian Indonesia itu sangat berguna. Masyarakat Indonesia perlu adanya pendalaman suatu ilmu yang mampu mempengaruhi inspirasi bagi para pengambil kebijakan agar semakin memperkuat fondasi ekonomi nasional.

“Sangat penting mempelajari sejarah ekonomi Indonesia, memahami ilmu ekonomi tidak hanya kurva dan dalil abstrak,” kata Reza.

Masih kata dia, beberapa fakta menunjukkan bahwa perekonomian negara Indonesia tidak kalah dengan negara lain pertama, Indonesia pemegang perekonomian terbesar di Asia Tenggara dan negara kepulauan terbesar di dunia. Berikutnya, Indonesia punya lebih dari 17.000 pulau dan panjang wilayah negaranya melintasi 5.000 km dari garis khatulistiwa, memisahkan Samudera Hindia dan Samudera Pasifik dan memegang hak kendali perekonomian yang melintasi wilayah laut Indonesia.

“Tol laut merupakan salah satu pendapatan negara karena banyak kapal laut yang melintasi laut Indonesia untuk mengekspor barang ke negara yang dituju. Contohnya seperti pelabuhan di Batam dan Sabang,” ujar Reza.

Reza melanjutkan Presiden Joko Widodo berpesan jika terjadi krisis, baiknya untuk tidak berhenti membeli barang/jasa dalam negeri, atau “Cintailah Produk Dalam Negeri,” agar perekonomian terus-menerus berputar untuk menjaga pertumbuhan dan pemerataan.

“Jadi, kalau dengar berita tentang perekonomian Indonesia yang buruk dan seakan-seakan tidak membuat masyarakat sejahtera, itu adalah bagian dari proses panjang bangsa ini untuk menuju perekonomian yang lebih baik,” tandasnya.

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Most Popular

To Top